Letih

 Hai!

Kembali lagi bersamaku di sore yang tak begitu bahagia. Keceriaanku di siang hari hilang begitu saja saat senja datang menyapa. Bukan salahnya, ini salahku sepenuhnya. Sedih jenis ini sudah beberapa kali aku rasakan, jadi sudah tak asing lagi perasaanku menerimanya. Hanya saja kali ini terasa lebih perih. Aku memang sudah lama letih, tapi kali ini aku terpuruk dan kehilangan semangat menjalani apa yang tersisa di hidupku. 

Entahlah. Apakah ini sungguh-sungguh atau emosi belaka, yang jelas perasaanku gundah namun tak sanggup lagi otakku berpikir rasional. Katanya.."terkadang urusan cinta kita tak perlu otak, gunakan hati saja". Kurasa tidak, hati fungsinya untuk menetralisir racun dan semua yang kita rasakan sumbernya ada di otak. Hmm, aku kembali menyebalkan dan terlihat sok pintar padahal volume otakku mungkin tak sebesar dia. Aku terus saja membandingkan diri, aku benci diriku.

Paragraf tiga ini baru mau kuketik dan aku baru sadar dua paragraf di atas hanya berisi keluhan dan makian untuk diriku sendiri. Baiklah, akan kulanjutkan untuk mengeluh. Aku tak suka rasa tak aman, tergantikan, dan kehilangan. Kali ini aku merasakan semuanya walau semuanya hanya berasal dari pemikiran tak kuatku saja, asumsi kekanak-kanakanku. Hatiku tak lagi tangguh dan aku benci itu. Aku terbiasa jadi seseorang yang perasaannya tak terpengaruhi tindakan orang lain. Aku berubah terlalu cepat. Butuh waktu untuk menyesuaikan agar tak begitu menyakitkan.

Biasanya aku senang melihat kawan memiliki pencapaian baru dan terlihat mengagumkan. Lain ceritanya jika orang itu sempat ikut berpengaruh kurang baik dalam hidupmu. Ah tidak juga, bukan salahnya. Ini salah dia, orang yang mengundangnya masuk ke dalam hidupku. Tapi kurasa itu juga haknya. Baiklah, semuanya memang selalu salahku. Aku letih dengan ini. Aku masih tak tahu apa yang mestinya kulakukan, yang pasti kali ini aku ingin mengungkapkannya disini. Kuharap aku segera mengikhlaskan dan memaafkan diriku.

Comments

Popular posts from this blog

Hak untuk Mati

Air Hujan

Bunga Buruk Rupa