Aku dan Kebodohanku

Aku menulis ini di sela-sela waktu belajar, memakai piyama putih bermotif bunga. Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba aku merasa ingin berbagi sesuatu, ceritaku. Ceritaku ini tentang aku dan kebodohanku.

Sejujurnya, dulu aku adalah seseorang yang berani tampil, berani berkelahi, dan berani mengungkapkan semua hal yang mengganjal di dalam diri. Akan tetapi, semakin dewasa keberanian itu semakin mengecil. Semua kejadian di masa lalu tentang ini masih kuingat jelas, sangat.
Semua dimulai ketika aku menjadi korban bully, oleh Si Juara Kelas. Aku masih ingat betul bagaimana aku datang ke sekolah di pagi hari hanya untuk menukar kursi di kelas, tujuannya adalah agar ia bisa duduk di kursi yang tinggi. Cerita bully ini tak mungkin aku jelaskan panjang lebar karena bisa menghabiskn waktu yang lama. Singkat cerita, aku merasa ini adalah sesuatu yang tidak adil, aku yang saat itu berumur 7-8 tahun tak tahu apa itu bully. Karena merasa aku adalah seorang pembantu Si Juara Kelas, aku berpikir dan berniat untuk membalikkan keadaan.

Aku tahu jelas jika aku melakukan hal yang sama dengannya, lalu apa bedanya antara aku dan dia? jika aku membalasnya, hal ini tidak akan berakhir, rantainya tidak akan berhenti dan putus. Oleh karena itu, aku punya ide cemerlang. Aku berusaha untuk mengalahkannya dalam ranking kelas. Menurutku hal ini cukup positif, aku berambisi menjadi juara kelas. Aku belajar setiap hari dan pada akhirnya ketika kelas dua aku menjadi juara kelas. Yes! Tujuanku berhasil. Entah karena apa tetapi Si Mantan Juara Kelas ini mulai menghindariku secara perlahan. Aku bersyukur, itu artinya aku tak akan lagi sengsara. hehe

Menjadi ranking 1 mungkin terlihat sepenuhnya menyenangkan dan membanggakan. Akan tetapi untukku tidak. Ketika itu, aku punya banyak teman, semuanya mendekatiku. Senang rasanya banyak teman saat itu. Tapi... itu semua kebohongan belaka. Tak ada satupun yang tulus mendekatiku bukan karena aku ranking, bukan karena aku sumber contekkan. Saat itu rasanya sangat sedih, maklum aku pun masih SD.

Situasi ini berlanjut hingga aku kelas satu SMA. Sungguh melelahkan rasanya. Aku harus berpura-pura seakan aku tak tahu apa maksud mereka mendekat. Aku harus pura-pura tidak mendengar semua cerita mereka tentangku di belakangku. Aku tahu sangat tahu, mereka tak pernah suka menjadi temanku. Saat itu, aku berpikir aku bodoh, hal seperti ini saja aku tidak bisa bersihkan.

Setelah tak sanggup lagi menahan sedih dan amarah, aku coba berpikir keras untuk menyelesaikan ini dengan segera. Hasilnya adalah aku tidak boleh menjadi pintar, cukup di tengah saja. Ya, aku tau itu adalah sesuatu yang bodoh. Mama pernah bilang "tidak semua orang menyukai kelebihan yang kita miliki, jika temanku toxic maka jauhilah". Tapi pada saat itu, aku yang keras kepala ini berpikir, aku mau punya banyak teman, tak apa jika mereka menyakitiku, setidaknya hanya perasaanku yang mereka sakiti, bukan fisik. Kebodohan ini terbawa hingga aku kelas 3 SMA. Aku menjadi orang yang lebih ceria. Aku berteman dengan mereka, serigala berbulu domba.

Aku pun seorang manusia, aku tak bisa berlama-lama menahan semua amarah dan kekesalan dalam diri. Hingga akhirnya aku berpikir "tak usah hiraukan orang lain yang membenciku, aku hanya harus hidup seperti zombie dan tak usah pedulikan orang lain". Tapi itu hanyalah pikiranku belaka. Pada kenyataannya, hingga saat ini aku masih seperti itu.

Aku tak pernah mau kehilangan teman, aku selalu berusaha menjadi sahabat mereka. Bukan sekali atau dua kali saja mereka menunjukkan kebenciannya terhadapku atau menyebarkannya ke teman-teman mereka. Aku tak habis pikir, bagaimana bisa? Apa salahku? Apa aku tak boleh menjadi pintar? Apa aku harus selalu berjerawat?

Dari semua itu, aku mulai sadar sesuatu. Aku harus coba tutup kedua telingaku, karena aku tak bisa menutup semua mulut mereka dengan tanganku. Tapi...
Satu yang kuyakin, tidak ada satupun manusia yang sepenuhnya toxic atau buruk. Terkadang kita harus dihadapkan dengan mereka, tujuannya agar kita bisa lebih kebal, lebih kuat, dan lebih cerdas.

Comments

Popular posts from this blog

Hak untuk Mati

Air Hujan

Bunga Buruk Rupa